RW 08 Pesanggrahan Jalani Penilaian Faktual Proklim Madya
Tim Verifikasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Tingkat Provinsi DKI Jakarta (Madya) melakukan penilaian dan peninjauan lapangan di RW 08, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
"Konsisten menjaga lingkungan"
Ketua Tim Verifikasi Lapangan yang juga Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Nahilul Huda mengatakan, peninjauan dilakukan bersama perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta.
Dinas LH Lakukan Verlap Proklim Madya di RW 02 Kebon SirihMenurutnya, verifikasi berfokus pada berbagai aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah diterapkan masyarakat di lingkungan RW 08, Kelurahan Pesanggrahan.
"Aksi adaptasi mencakup pengendalian kekeringan, banjir, tanah longsor, peningkatan ketahanan pangan, hingga pengendalian penyakit akibat perubahan iklim. Sedangkan, aksi mitigasi meliputi pengelolaan sampah dan pemanfaatan energi baru terbarukan," ujarnya, Rabu (2/9).
Ia mengapresiasi pengelolaan sampah di RW 08, Kelurahan Pesanggrahan yang dinilai sudah berjalan baik. Tingkat pemilahan sampah di wilayah tersebut bahkan telah mencapai 80 persen.
Meski demikian, terdapat catatan yang perlu ditindaklanjuti, terutama terkait pengendalian kekeringan. Tim verifikasi menyarankan warga menambah sarana penampungan air hujan atau kolam tadah hujan.
"Hal yang perlu dikembangkan lebih lanjut adalah pengendalian kekeringan. Kami sarankan untuk menambah sarana penampungan air hujan atau kolam tadah hujan di lingkungan ini," terangnya.
Sementara itu, Ketua RW 08, Kelurahan Pesanggrahan, Tengku Zainal memaparkan, budaya memilah sampah di wilayahnya sudah berjalan dengan baik.
Ia menuturkan, salah satu program unggulan adalah fasilitas budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang memanfaatkan lahan tidur seluas 1.500 meter persegi.
"Dari total sampah organik sisa rumah tangga yang terkumpul 80 hingga 90 kilogram per hari, sekitar dua karung langsung kami olah menggunakan maggot dan habis dalam waktu 24 jam," bebernya.
Selain menggunakan maggot, lanjut Zainal, sampah organik dan dedaunan kering diolah dengan metode Teba Modern. Proses pembusukan dipercepat menggunakan cairan Biowash sehingga sampah organik dapat terurai menjadi kompos dalam waktu sekitar satu bulan.
"Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung program ketahanan pangan di wilayah setempat," ucapnya.
Menanggapi masukan tim verifikasi, Zainal berkomitmen segera merealisasikan pembuatan wadah penampungan air hujan di Kompleks Bumi Bintaro Permai.
"Fasilitas penampungan air hujan memang belum ada dan akan segera kami buat. Harapan kami, seluruh warga dan generasi penerus dapat konsisten menjaga lingkungan serta merawat pohon-pohon yang ada agar wilayah ini tetap asri," tandasnya.